Menurut Imam Al Ghazali:
“Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana ia adanya”
Menurut Jurjani:
Atom, elektron, tubuh manusia, hewan, tumbuhan, bumi dan jagat raya ini tidak lain adalah tanda, simbol, dan alamat yang menunjukkan Pencipta dan Pemiliknya. Analogi orang yang meneliti alam sibuk dengan data dan fakta, tapi tidak memahami hakikat alam semesta itu sendiri. Seperti orang yang melihat rambu rambu dan mengaguminya, namun perintah dari rambu rambu tsb tidak dipatuhi
“Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana ia adanya”
Menurut Jurjani:
Keyakinan yang terguh yang sesuai dengan realitas. Berkata oara Hukama:
“(Ilmu) adalah sampainya gambaran sesuatu pada akal. Ilmu adalah tibanya diri pada makna sesuatu.”
Pada saat kita membacasuatu ilmu:
“(Ilmu) adalah sampainya gambaran sesuatu pada akal. Ilmu adalah tibanya diri pada makna sesuatu.”
Pada saat kita membacasuatu ilmu:
Aktifitas kita mengkaji alquran sama posisinya dengan kuliah kita, asalkan niatnya beribadah kepada Allah. Allah “menampakkan” Diri-Nya melalui alam dan ayat.
Seorang saintis, jika melihat sebuah fenomena alam, maka akan timbul di dalam dirinya rasa syukur dan dan doa keada Allah. Seperti saat hujan terjadi, Rosul mencontohkan kepada kita untuk berdoa karena pada saat hujan para malaikat turun ke bumi.
Atom, elektron, tubuh manusia, hewan, tumbuhan, bumi dan jagat raya ini tidak lain adalah tanda, simbol, dan alamat yang menunjukkan Pencipta dan Pemiliknya. Analogi orang yang meneliti alam sibuk dengan data dan fakta, tapi tidak memahami hakikat alam semesta itu sendiri. Seperti orang yang melihat rambu rambu dan mengaguminya, namun perintah dari rambu rambu tsb tidak dipatuhi
Seorang ilmuwan muslin harus merentangkan tujuan pencarian ilmunya pada pengenalan Allah (ma’rifatullah) dan beriman kepada-Nya.
Demikian juga mereka yang mempelajari fenomena alam dan social, ia tidak boleh semata mata bertujuan pada aspek duniawi. Hal inilah yang dimaksud dalam QS Ali Imran: 190
Ilmuwan muslim bertujuan:
- Mengenal Allah
- Beribadah
- Menjadi khalifah di muka bumi
Kedudukan Ilmu (Sains) dalam Islam
- Alquran memuat sekitar 750 kali “ilmu” beserta turunannya
- Para ulama dan intelektual mencoba membuat definisi ilmu berdasarkan kata ilmu yang ada dalam alquran
QS Azzumar:9
Al Mujadalah:11
Alfatir: 28, orang yang tidak takut kepada Allah dia bukanlah ulama
Thaha:114
Ali imran: 79, orang yang rabbani bukan sekedar orang yang menyepi di mushola, tetapi yang berilmu banyak
“Barangsiapa yang mendatangi masjidku ini, yang dia tidak mendatanginya kecuali untuk kebaikan yang akan dipelajarinya atau diajarkannya, maka dia sekedudukan dengan mujahid di jalan Allah. Dan siapa yang datang untuk meksud selain itu, maka dia sekedudukan dengan seorang melihat barang perhiasan orang lain” (H.R Ibnu Majah dari Abu Hurairah
Sangat penting untuk mencari ilmu, karena bisa disandingkan dengan para mujahid. Berjihad melawan malas, kantuk, dll. Dan jihad yang sebenarnya pun, ke palestina misalnya, harus mengetahui ilmunya terlebih dahulu, dan bila dibayangkan tidak ada ahli ilmu utnuk menafsirkan alquran, maka berkuranglah amalnya. Maka dari itu sangat penting menuntut ilmu
Ulama dan pewaris Nabi sebenarnya hanya mewariskan ilmu kepada kita. Maka ambillah sebanyak banyaknya warisan nabi tersebut
Ilmu itu barang yang hilang dari seorang muslim. Setiap ilmu itu asalnya dari Allah. Walaupun penyampai ilmu itu nonmuslim, tetap kita boleh mengambil ilmu dari siapapun itu
“ Tuntutlah ilmu, sebab menuntutnya untuk mencari keridhoan Allah adalah ibadah, mengetahuinya adalah khasyah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah dan mendiskusikannya adalah tasbih. Dengan ilmu, Allah diketahui dan disembah, dan dengan ilmu pulalah diagungkang dan ditauhidkan. “ Muadz bin Jabal
Tujuan mencari ilmu:
- Memahami agama dan mengenal Allah
- Melaksanakan kesempurnaan tugas menjadi khalifah dan hamba Allah
Para ulama melarang pencarian ilmu untuk tujuan duniawi
Ibn Hazm (maratib al-ulum dan al-akhlaq wa syiar):
- Mengkritik orang yang mencari ilmu untuk harta, seperti pengorbanan besar utnuk tujuan yang tidak ada nilainya
- Harta bisa dicari dengan cara yang lebih mudah. Dan ia telah dzalim dengan memperlakukan derajat ilmu.
Kita senantiasa selalu perbaharui niat kita, agar senantiasa berorientasi kepada Allah
Ibnu Mas’ud berkata:
“Janganlah kalian mempelajariilmu karena tiga hal:
1. Dalam rangka debat kusir dengan orang orang bodoh
2. Untuk mendebat para ulama
3. Memalingkan wajah wajah manusia ke arah kalian.
Carilah apa yang ada di sisi Allah Subhanallahu Wa ta’ala dengan ucapan dan perbuatan kalian.
Komentar
Posting Komentar